Rasanya masih belum lama saya mendengar kata ”Baduy” sejak beberapa tahun saya merantau di Jakarta. Nama yang cukup asing di telinga saya. ”Baduy? Apa itu?”,’ tanyaku balik dengan nada penasaran ke seorang teman yang menyebut-nyebut kata ”Baduy”. Oh, rupanya memang benar bahwa kata ”Baduy” adalah asing, sebuah nama suku asing, di tempat pemukiman yang asing dan jauh tersembunyi di antara lembah-lembah pebukitan di Kabubaten Rangkas Bitung Propinsi Banten.
Saya tidak menduga bahwa saya akhirnya bisa sampai ke tempat pemukiman tersebut. Suatu perjalanan indah yang saya dan teman-teman rencanakan persis seminggu sebelumnya.
”Mba, kemana kita Minggu depan?”, tanya saya kepada Mba Endi sesaat akan mengakhiri acara jalan-jalan kami di sebuah tenda pleton di Bumi Perkemahan Ranca Upas, Ciwidey, Kabupaten Bandung.
Acara yang diselenggarakan oleh salah satu milis pencinta alam. ”Eh..Ayo..! Kemana maunya?”, jawab Mba Endi dengan cepat dan tanggap kepada saya. ”Ke Baduy atau Ujung Genteng?”, tanya saya balik lagi. ”Yukk..Yuukk..! Ke Baduy mau. Ke Ujung Genteng juga mau. Saya belum pernah ke dua tempat itu”, kata Mba Endi dengan gembira. ”Oke deh.. Kalau gitu, kita ke Baduy dulu saja yah. Kapan-kapan kita bisa ke Ujung Genteng”, tandas saya dengan menutup pembicaraan saya dengan Mba Endi yang sama-sama gemar jalan-jalan, berpetualang menikmati alam ciptaan Maha Karya Illahi.
Dengan sambutan itu pula, saya memutuskan untuk pergi ke Baduy. Saya dan Mba Endi mencoba menawarkan ke teman-teman lainnya dan diputuskan yang ikut bergabung dalam trip ini berjumlah 7 orang yang disesuaikan dengan kapasitas mobil. Kami yaitu: Saya, Mba Endi, Adam (anaknya Mba Endi), Oji Faroz, Dian, Fidi dan Mba Atik Kamil (teman dekat Mba Endi). Dengan berbekal rencana yang sudah matang pada hari H-3, kamipun berangkat menuju pemukiman tradisional tersebut dengan kendaraan Kijang Inova milik Mba Endi.
Tiga Jam Menuju Nangrang: Pintu Masuk Belakang Area Baduy.
Ada dua titik awal (meeting point) keberangkatan dari perjalanan kami menuju Baduy. Dengan kekompakan dan perasaan senang, saya dan teman-teman berangkat pada hari Sabtu tanggal 6 Desember. Tim Mba Endi berangkat dari rumah Mba Endi di bilangan Tebet Barat Dalam. Sementara saya menunggu di komplek Lippo Karawaci Tangerang karena memang rute menuju Baduy dan lintas Rangkas Bitung adalah lewat jalur tol karawaci.
Ada yang tak bisa dielakkan bahwa kami harus berangkat sedikit terlambat. Semula direncanakan akan berangkat pukul 6 pagi dari Jakarta. Dan kenyataannya kami berangkat pukul 07:30 lewat dari Karawaci. Bagaimana tidak molor? Saya saja baru bangun pukul 6 ! Hahahahaa… Efek sindrom Sabtu yang tidurnya cukup lama dan bebas dari jam kerja kantor. Dengan buru-buru beranjak dari tempat tidur, dan lalu mandi dan langsung saya sambit tas ransel saya yang sudah saya persiapkan sebelumnya seluruh bekal selama di Baduy.
Saya bertemu teman-teman dari Jakarta sekitar pukul 07 pagi lewat dan tak berapa lama kemudian kami pun berangkat. Walau sebelum berangkat saya sudah dicerewetin oleh Mba Endi oleh karena terlambat. Seperti biasanya, ritual bepergian selalu molor dan kurang tepat waktu. Hehehe…
Selama perjalanan, tidak ada yang asing di perjalanan. Jalanan selama di tol hingga keluar Rangkas Bitung cukup lancar. Selama di jalan semua tidak tinggal diam. Semua saling cerita mulai dari urusan rumah tangga, keluarga, hobby, kerjaan, alumni sekolah sampai kepada soal musik dikomentari. Hahahaha… Owalah, emang sudah begini kali yah dimana-mana. Bahwa di setiap trip, selama perjalanan, daripada mulut terasa basi tak bercerita, semuanya saling tukar pikiran dan ngobrol ngalor-ngidul..!
Pemandangan hamparan sawah yang hijau menyegarkan, rumah-rumah khas Banten dengan ornamen-ornamennya yang artistik dan sedikit nyentrik warnanya, aktivitas keseharian penduduk Banten, semilir angin segar dari pegunungan dan awan putih menggelayut di langit biru selalu setia mengiringi perjalanan kami. Dan pada sekitar pukul 10an kami tiba di Rangkas Bitung, Saya dan teman-teman menyempatkan waktu ke pasar tradisional untuk berbelanja beras, kebutuhan makan selama di Baduy serta oleh-oleh ikan asin, sirih dan rokok untuk orang-orang Baduy Dalam. Oiya, air liur kamipun tak terbendung lagi untuk menikmati Bakso yang ada di pasar tersebut. Dan kami sempatkan makan. Saya, Mba Endi dan Mba Atik pun makan bakso sebentar. Asli..!! Enak banget baksonya.. Dengan membayar cuma Rp. 6.000,-/mangkok, rasa ngiler kamipun terbalaskan sudah.. Hehehe…
Selepas belanja, kamipun segera bergegas dan kembali berangkat menuju Nangrang. Rute yang kami lalui pun semakin berbeda dari sebelumnya. Berkelok-kelok, menurun dan menaik, menerobos bukit-bukit kecil alam Propinsi Banten bagian luar. Dan dengan jarak yang cukup jarang, perkampungan semi modern kami lintasi hingga terus menerobos hutan heterogen. Sungguh perjalanan yang indah!
Sesampai di kampung Nangrang, kami menurunkan semua barang-barang kami dan tak lama kemudian kami makan siang. Nasi dan lauk yang sudah kami siapkan dari Jakarta. Kira-kira setengah jam kemudian kami langsung memulai petualangan kami menuju kampung Baduy.
Menyusuri Pemukiman Baduy: Menuju Baduy Dalam
Tak jauh dari lokasi kami makan, ada jalan setapak pintu masuk kawasan pemukiman tradisional Baduy. Dan kurang lebih 20 meter ke depan, sudah terlihat alam pegunungan Baduy yang terhampar luas dan liku-liku lembah. Voila..! Sangat menyegarkan mata..
Kami ber-7 pun dengan semangat menyusuri jalan menuju perkampungan Baduy. Jalanan yang menanjak dan menurun, menyeberangi kali kecil, jembatan bambu. Tak sedikit areal persawahan pun saya dan teman-teman lewati. Yah, mereka menyebutnya ladang. Karena di ladang tersebutlah semua mereka tanam. Mulai dari padi darat, kelapa, aren, buah-buahan dan semua hasil ladang orang Baduy. Dan kamipun tak lupa mengabadikannya dalam foto. Tentu tak lupa berfoto bernarsis bersama. Huahahaha.. Seperti biasa, ’penyakit’ hobby jalan-jalan sebagai oleh-oleh
pulang. Jalanan yang cukup licin bekas hujan yang baru saja mengguyur perkampungan di sana seolah memaksa diri untuk berjalan dengan perlahan..”Srrrrrrttt…., Duuh..! Hampir saja terpeleset.”, demikian celetuk seorang teman yang dengan sabar menapaki jalanan tanah merah kampung Baduy itu.
Kira-kira setengah jam kami lalui untuk perjalanan sejauh +/- 7 km ke Baduy Dalam, saya dan teman-teman pertama kali menemui perkampungan Ciranji, Baduy Luar. Ops..! Rumah nan unik bersama jejeran lumbung-lumbung padi yang tertata rapih dengan garis tengah atap mengkerucut membuat lingkungan kampung tersebut terlihat sangat eksotis.
”Wooww..! What a beautifull..! Eksotis sekali mereka”, celetuk Mba Endi berdecak kagum sambil memulai mengabadikan rumah tradisional, lumbung padi dan keaslian wajah-wajah orang Baduy Luar yang unik itu dengan kamera tele-nya. Dan hampir semuanya kami berpose di sela-sela rumah itu. Dan sesering mungkin kami abadikan dari jauh raut-raut wajah orang-orang Baduy Luar tersebut. “Kapan lagi? Kata teman yang satu. Mumpung di Baduy Luar ini masih bisa mengabadikan foto-foto,” kilahnya. Betul. Betul juga.
Kemudian kami susuri lagi teruuss..dan terusss… meninggalkan Kampung Ciranji, kami temukan lagi kampung Baduy Luar yang berikutnya yaitu Kampung Cisagu, Kampung Babakan Erik, Kampung Cijengkol dan terakhir Kampung Cikadu. Unik..! Kenapa? Setiap kampung memiliki sangat banyak lumbung-lumbung padi hasil panen dan letaknya pun tidak dekat dengan rumah mereka. Agak jauh terpisah dari lingkungan rumah mereka.
Dan selama menyusuri kampung demi kampung, kami melewati beberapa kali dengan dan atau tanpa jembatan yang terbuat dari bambu. “Pelan-pelan jalannya.. Liciinn..!!”, teriakku ke Mba Fidi dan teman-teman lainnya. Benar, kondisi musim hujan membuat daratan tanah merah perkampungan Baduy Luar membuat licin dan harus waspada dari kejatuhan. Tapi tidak bagi orang-orang Baduy. Mereka dengan lancar menjalaninya dengan tanpa alas kaki. Salutt.. Baik anak-anak maupun orang tuanya..
Hampir sejam lebih saya dan teman-teman meninggalkan perkampungan Baduy Luar. Saatnya kami memasuki area Baduy Dalam. Cukup jarang kampung di daerah Baduy Dalam tersebut. Dan sebelum memasuki area Baduy Dalam, kami harus menyeberangi sungai yang cukup besar dengan meneyeberangi jembatan bambu yang terikat dan tertata rapih yang sudah mereka buat dengan cara bergotong-royong dimasa dulu. Saya tidak bisa membayangkan berapa lama proses pembuatan jembatan tersebut dan bagaimana caranya, mengingat harus dikait-kaitkan dengan dahan-dahan pohon yang besar di kedua pinggiran sungai itu dengan tinggi jembatan kurang lebih 10 meter dari permukaan sungai.
Selintas jembatan tersebut, saya dan teman-teman terus menyusuri jalan setapak itu.. ”Hey.. Ada adik kecil dua orang di dekat pohon itu!”, kataku pada teman lainnya. Dua orang Baduy Dalam sedang memperbaiki jembatan kali kecil dengan cara mengikat-ikatkan dengan temali yang terbuat dari irisan kulit pepohonan dan rajutan ijuk. Kami menyapa meraka ”Haii.. Halooo..”. Mereka pun tersenyum melihat kami dan tersipu malu lalu berjalan cepat berlalu dari pandangan kami. Aahh.. Unik sekali wajahnya.. Pakaiannya.. Dandanannya.. Rambutnya yang terburai kurang tertata rapi. Senang bisa melihat mereka..
Tak berapa lami kami temukan kampung Baduy Dalam yang pertama kali, yaitu Cikeurta Warna. Sunyi… Sepiii dan tiada orang. Penduduk kampung itu pergi ke ladang. Rumah-rumah tradisional yang terbuat dari dinding anyaman bambu yang dibelah-belah, lantai rakitan bambu yang kokoh dan beratapkan sejenis bahan rumbia. Rumah yang kokoh dan adem. Perkampungan yang damai dan tenang, sejuk dan tentram. Jumlah perkampungan Baduy Dalam ada tiga, yaitu: Cikeurta Warna, Cibeo dan Cikesik. Rata-rata jumlah rumah penduduk di Cibeo dan Cikesik hampir sama, yaitu kurang lebih 100 rumah tangga. Yang lebih sedikit adalah di Cikerta Warna. Hanya mencapai kurang lebih sekitar 50an.
Bermalam di Cibeo : Menikmati gelapnya malam Baduy Dalam
Jelang jam tengah 5 kita sudah mendekati Kampung Cibeo, Baduy Dalam. Menuju ke lokasi ini, kita melewati jembatan bambu dua kali dan menyeberangi sungai tiga kali. Hahaha… Lucu sekali momen saat menyeberangi sungai ini. Beberapa teman hampir terjatuh dan terpeleset oleh licinnya bebatuan sungai. Hingga si Udin dan Agus pun (penduduk Nangrang yang kami sewa sebagai Porter) bolak-balik menjemput teman untuk membantu menyeberangkan. Hingga kami akhirnya, menemukan Kampung Cibeo.
Wahh.. Rumah-rumah di kampung ini cukup rapat.. Lebih unik rumahnya dibandingkan rumah-rumah yang berada di Baduy Luar. Sama seperti rumah di Cikeurta Warna. Hening, damai, tenteram, rumah-rumah yang membisu, sesekali tampak anak kecil dan nenek tua duduk di pintu rumah tersebut. Sementara yang lainnya sedang berada di ladang. Hampir 100% aktivitas penduduk Baduy Dalam ini dihabiskan di ladang. Bahkan merekapun jarang untuk kembali ke rumah. Mereka menginap di ladang (huma), sebagai rumah kedua mereka.
Tak berapa lama kemudian, para kepala rumah (olot) di Cibeo itu berdatangan menghampiri saya dan teman. Oh, sudah hal biasa bagi mereka. Dan mereka menganggap kami sebagai pengunjung. Mereka menyapa kami dengan ramah. Wah, sangat ramah mereka. Raut-raut wajah mereka unik dan khas pedalaman, primitif! Hey ! Rupanya mereka bisa berbahasa Indonesia. Kamipun dengan senang berbincang-bincang. Mereka telah sering dan terbiasa rupanya dengan pengunjung apalagi yang berasal dari Jakarta. Mereka belajar dari para pengunjung. Dan menjadi terbiasa.
Kemudian, salah satu penduduk Cibeo itu, namanya Pak Sarif menawarkan rumahnya (gajeboh)-nya kepada kami untuk tempat saya dan teman-teman menginap. Masing-masing kami bergegas merapihkan barang-barang kami dan masuk ke rumahnya. Waaahh… Rumahnya unik dan ruang tamunya lebar. Pak Sarif terlihat sibuk melebarkan tikar sebagai alas kami. Teman-teman beres-beres dan lalu sebagian mandi. Sementara saya berbincang-bincang dengan warga Cibeo tersebut yang datang ke teras bambu rumah Pak dan menanyakan banyak hal seperti adat-istiadat, peraturan, silsilah, budaya, mata pencaharian, termasuk soal urusan perjodohan dan pernikahan.
Jujur, saya sangat senang mereka bisa menerima kami dan respect terhadap saya dan teman-teman. Saya merasa ’tersentil’ dengan sikap mereka yang sangat bersahaja dan apa adanya. Raut-raut penuh makna, tampang polos dan seperti tidak ada beban dan dilimbung masalah sekalipun. Mereka walau terlihat memakai pakaian yang minim dan hanya terdiri dari dua warna, mereka tetap survive dan damai sejahtera. Saya dan teman-teman pun tak berhenti menanyakan terus mengenai orang-orang Baduy Dalam. Sampai bingung mau menanyakan lagi. Hehehehe..
Saat jelang maghrib, seperti biasa di sana ternyata tidak menganut salah satu faham agama seperti di pemerintahan Indonesia. Saya kira mereka sholat maghrib. Itu benakku. Sewaktu saya tanyakan kepada Pak Sangsang (salah satu yang ikut berbincang-bincang di teras rumah Pak Syarif itu dan juga menemani saya mandi sore di sebuah pancuran air segar di seberang kali yang berada di belakang rumah mereka), berkata bahwa aliran keyakinan mereka adalah Sunda Wiwitan. Penganut paham kepuunan. Kepuunnan Baduy Dalam dipimpin oleh seorang Puun (baca: Pu’un). Puun hampir sama kedudukannya dengan Presiden Indonesia. Mereka berdiri sendiri dan tidak mengikuti paham aliran bahkan sistem pemerintahan di Indonesia. Seluruh hal peraturan dan adat istiadatnya dipimpin oleh Pu’un. Wah, sebuah peradaban yang berbeda yang bertahan hidup di tengah moderninasi yang sedang gonjang-ganjing.
Saat malam tiba, saya dan teman-teman bersegera makan bersama diruang tamu Pak Sarip itu. Di tengah ruangan yang reman-remang oleh sebuah sepucuk cahaya dari benang yang terbakar dengan kekuatan minyak sayur. Nasi yang kami makan pun dimasak di rumah Pak Sarif dengan dandang khas Baduy di atas tungku masak yang berada di kamar mereka. Saya cukup heran dan prihatin juga. Tapi, memang mereka sangat nyaman dengan semuanya.
Kemudian selepas makan, saya dan teman-teman langsung tertidur pulas. Hahaha… Sangat berbeda sekali. Sementara cahaya sinar satupun tak ada di rumah Pak Sarif itu lagi. Mati. Alunan suara angin semilir, dan bau tubuh malampun bersahut-sahutan dengan alunan melodi suara jangkrik yang tak diam mengiringi malam. Benar-benar tinggal dan berada di tengah alam. Segala kekuatan alam melindungi dan bersahabat dengan Kampung Cibeo itu. Dan rasanya malam itu sangat lama. Beberapa teman berulang kali terbangun dari kenyenyakan tidur dan sadar ternyata masih belum pagi. Huahahahaha…… Ada yang nyeletuk “Kog lama banget yah pagi-nya.”. Hahahaha.. Beda sekali dengan di Jakarta yah, yang sebentar saja sudah pagi saja.
Saya pun terhentak terbangun pada pukul 1 pagi ketika tiba-tiba seekor tikus yang ukurannya cukup besar menghinggpai betis saya. Kaget..!! Dan spontan saya bangun.. Hahahahaa… Saya rasa tikus itu ingin melintasi dari kaki saya kemudian ke tengah-tengah dan mengendus bau-bau tas kami serta mencari makanan. Saat saya bangun, saya pun membangunkan teman-teman lainnya.. Semuanya pada was-was.. Wakakakakkk.. Kocak sekali malam itu. Sayang, selama di Baduy Dalam ini tidak memperbolehkan mengabadikan gambar apapun termasuk menyalakan alat-alat elektronik seperti radio ataupun handphone. Dan lagi pula, tak satupun sinyal komunikasi ada di sana.
Aaahh.. Benar-benar totalitas berada dan bersahabat dengan alam. Banyak hal yang saya dan teman-teman pelajari selama di Cibeo ini. Kesalutan akan kesederhanaan hidup mereka dan kedamaian berlingkungan. Ah, indah sekali!
Terakhir di Baduy Dalam : Saatnya Bergegas Pulang
Udara pagi di Cibeo sangat menyegarkan. Dingin masih membalut tubuh dan irama perkampungan di sana terlihat damai terus. Sesekali suara ayam berkokok membelah kesunyian kampung dan menemani suara dedaunan bambu yang bergesek-gesekan.
Sementara sarapan pagi sudah disiapkan oleh Pak Sarif. Sangat well-prepared. Dan dengan jadual yang sudah ditentukan, kami harus kembali pulang, meninggalkan kampung Cibeo. Setelah berkemas barang masing-masing dan sebelum beranjak pulang, saya dan teman-teman berkeliling di seputar rumah-rumah di Cibeo itu. Masuk lewat gang-gang sambil memperhatikan seksama aktivitas mereka. Dan ternyata memang, mereka sudah berada di ladang (huma) sebagian besar. Rutinitas di pagi-pagi sekali, mereka sudah beranjak ke ladang dan pulang sore harinya.
Sekitar pukul 9 pagi, kami akhirnya meninggalkan aroma kampung Cibeo itu. Dan pergi pulang kembali ke Nangrang, tempat mobil kami parkir. Sungguh merupakan sebuah petualangan spiritual bagi saya dan teman-teman. Wadah perenungan yang sangat tepat selama berada di sana. Pembanding yang jauh terbalik 180 derajat dengan kehidupan perkotaan. Pak Sarip, anaknya, dan temannya seorang, turut juga menghantarkan kami ke Nangrang dengan gembira. Suatu kehormatan bagi kami dan bisa mengabadikan foto bersama di perbatasan luar antara Baduy Dalam dan Luar. Yuhhuu.. Semuanya berpose bersama mereka. Ah, senangnya..!
Sekitar 2 jam-an, kami tiba di Nangrang dan beranjak berlalu menuju Ciboleger untuk membeli oleh-oleh. Mba Endi dan Mba Atik pun memborong kain tenunan dan centong untuk perlengkapan dapur. Saya pun membeli baju Baduy. Lumayanlah buat oleh-oleh, biar ada kenangan kalau kita pernah ke Baduy. Hehehehe.. Niat untuk mengambil foto-foto di jembatan akar dari pintu masuk Ciboleger pun sirna sudah. Mengingat kondisi tubuh teman-teman sudah tidak memungkinkan. ”Ya udah deehh.., kita langsung saja ke Rangkas Bitung. Biar sekalian makan Bakso kita di Pasar!”, celetuk Mba Endi memutuskan.
Selama di perjalanan menuju Rangkas. Semuanya tidak tinggal diam. Musik pun bolak-balik diputar.. Setiap musik mulai masuk lagu, langsung semuanya berkomentar dan tak jauh-jauh.. gosip yang menimpa penyanyipun di ulas.. Huahahahaa… Dasarrr… Ibu-ibu dan kaum perempuan yang haus akan gosip..! Dan lagu-lagu yang dibawakan pun, rasa-rasanya sudah terputarkan semua. Dihajar habis! Bahkan lagu-lagunyapun dipleset-pleseti dgn menambahkan ”y” disetiap akhir kata bernada ”ku”. Sehingga menjadi ”kyu”. Hehehehe… Semua perjalanan yang kami lalui sangat berwarna, fun, benar-benar petualangan sekali, kompak dan saling membantu.
Senang melalui petualangan kali ini..! Berharap petualangan ke kampung pedalaman kali ini akan menjadi momen yang berharga, bahan pembelajaran untuk hidup dan berkehidupan.
Dan kuakan kembali datang ke sana lagi. Semoga..! 
Ditulis oleh Marley Gultom
Popularity: 53% [?]
nice artikelnya, good
Terimakasih atas tulisannya. Sangat membantu sekali!
Kami rencana juga mau berkunjung ke masyarakat badui. Doakan!
Salam.
I like Baduy.. hihi..
udah 3 kali ke Baduy, seneeng banget.. pokoknya I love Baduy…
wah hat trick tuh, sekali lagi bisa dapat payung cantik…kiding
tapi memang baduy ngangenin walau trekkingnya bikin dengkul mau copot